NUNATURALLY

salted dreams sugary sea

Wednesday, 3 January 2018

Expirable SSEAYP Stuff that I Still Keep

"Selamat datang tahun 2018, Selamat tinggal tahun 2017"~

Penggalan puisi di atas mungkin sangat akrab di telinga anak-anak 90-an semasa SD. Sedikit bernostalgia, pada zaman dahulu kala setiap pergantian tahun, bapak ibu guru kadang memberi tugas mengarang puisi, yang judulnya ya kalimat itu tadi. Jadi tiap tahun cuma angkanya aja yang diganti. Kwkwk

Apakah ini juga ada di zaman SD kalian?   


Well... berbicara soal benda kadaluarsa (lah kapan lu berbicara soal itu?), Tadi pas bersih-bersih lemari, aku nemu beberapa barang-barang SSEAYP yang ternyata masih aku simpan sampai tahun ini, 2018. Hanya karena alasan 'sayang untuk dimakan' dan 'terlalu lucu', snack Jepang yang seharusnya aku makan 4 tahun yang lalu itu masih tersegel rapi dan tersimpan dengan aman sentausa di dalam sebuah kontainer kecil. 

Time does fly :')

Sejak pertama liat permen ini di JPY Snack Party,
aku udah nggak ada niat untuk makan.
Aku maunya koleksi aja gitu selama-lamanya,
soalnya gemes banget liat kelucuan permen ini.
Aku juga tidak sampai hati kalau harus merusak packagingnya.
Terakhir aku ingat-ingat, tanggal kadaluarsanya tuh masih lama.
dan entah karena emang waktu cepat banget berlalu, shock dah pas liat tanggal expirenya, 

tiga tahun lalu banget :')
Syukurlah aku udah sempat cobain permen ini, rasanya manis.
Tapi yah menurutku, permen ini lebih manis di mata dari pada di lidah xD

Yang ini bikin aku lebih shock lagi. Ternyata aku masih simpan Nori ini di dalam notebook. Yapp, waktu di kapal aku sempat jadiin ini bookmark. xD
Aku dulu tiap hari makan ini, enak dan original taste! Kadang nyelipin di kantong A1 buat kucemil nanti. Lol
Ga perlu nyari tanggal expirenya, dari warnanya aja yang dari ijo berubah jadi coklat udah bikin ngeri. Walaupun plastik pembungkusnya masih sempurna, p
asti banyak banget bakterinya. Ini rumput laut Legend. Aku yakin ini satu-satunya Nori Ms. Nippon Maru tahun 2014 yang masih tersisa :') Pokoknya aku ngga mau buang ini. T^T

Next, puding matcha...
Sedih karena ini pure kelupaan dimakan. T^T
Ini juga aku comot di JPY Snack Party. 
Pengen rasanya masuk ke lorong waktu dan kembali ke beberapa bulan sebelum pudingnya expire. Pasti ini enak banget 4 tahun lalu.
Atau jangan-jangan maksudnya itu expired tanggal 15 Januari 2029???
*positive thinking*

Obat kumur lucu ini juga masih ada, dibagikan pas hari pertama di Tokyo.
Aku cuma pakai satu kali selama di kapal, soalnya aku udah bawa Listerine greentea yang menurutku lebih menyegarkan.
By the way ini expire bulan Mei tahun ini.
Ada yang mau kumur-kumur ambassador??

Selanjutnya Hand Cream by Kiss Me yang aku beli di sebuah toko di Asakusa.
Jadi, beberapa hari setelah tiba di Jepang, tanganku terkelupas parah karena kering.
Padahal waktu itu masih Autumn, gimana kalau aku adaptasi Winter yak? Mungkin aku sudah ganti kulit seluruh tubuh. Kwkwk.
Well, aku suka banget sama hand cream ini, aromanya kayak obat gitu and it's really works well! Telapak tanganku yang bak kena azab jadi lembab dan perlahan ganti kulitnya berhenti. Sampai sekarang aku masih simpan hand cream ini, ga ada tanggal kadaluarsanya. Apa itu berarti, aku bisa pakai ini selama-lamanya? :')

Lagi-lagi ini mubajir gara-gara disayang-sayang trus lupa dipake. T^T
Ini salah satu dari sekian produk sponsor yang dibagikan di kapal Nippon Maru.

Kalau tidak salah ini baru aku pakai sekali, itupun cuma dituang ke tangan doang biar tahu baunya kayak apa.
Sea Breeze, dari namanya aja udah kelihatan seger banget kalau dipakai tiap mandi. Namun apa daya, sudah 4 tahun berlalu, warna airnya terlihat keruh dan menggumpal di dasar botol.
Ah dasar Nuna.

Water in Lip by Shiseido. Ini wajib punya kalau di Jepang.
Aku beli di Asakusa juga, alasan beli: karena lucu xD
Dan selain itu, lip balm yang aku punya sama sekali tidak mempan mengatasi bibir pecah-pecahku yang udah kayak sawah pas paceklik(?)
And of course, lip balm Shiseido ini bagus banget. Lembabnya tahan lama dan wanginya juga enak. Iya, 4 tahun yang lalu~

Last but not least, masih dari brand terkemuka milik Jepang, Shiseido ~
Jadi yang baru liat, ini namanya FWB, Fullmake Washable Base.
Ini tuh sejenis cream yang digunakan sebagai base make-up, yang jikalau diapply, make-up semenor apapun akan jadi washable banget, alias bisa hilang dalam sekejap hanya dengan dibasuh air. Dan... sudah kubuktikan sendiri ^0^
Ini kemasan sample yang juga merupakan gratisan dari sponsor. Untung setengahnya sudah kupakai, masih ada 3 sachet tersisa, yang lagi-lagi, sudah expired.

Jadi itulah daftar barang-barang legend peninggalan program SSEAYP tahun 2014, yang pada waktu bernilai guna tinggi, aku tidak tega gunakan, dan pas jadi 'syampah', aku tidak tega buang.
Biarlah ini kusimpan selamanya, dan menjadi saksi bisu akan kenanganku (dan kebiasaanku mengoleksi benda-benda lucu) semasa jadi IPY~
Saturday, 1 July 2017

Oh... Begini Ya Jadi Anak Kost

Bekerja di sebuah kota besar, jauh dari rumah dan keluarga memang selalu menyimpan cerita unik dan pengalaman tersendiri.
Iya, ter-sendiri... xD

Sebelumnya, aku belum pernah yang namanya tinggal di kost-kostan, hidup bertetangga dengan orang-orang baru, dimana toilet, dapur serta tempat jemuran digunakan sebagai fasilitas bersama. 

Aku juga belum pernah punya Ibu Kost sebelumnya (ya iyalah, kan pertama ngekost!). Dari legenda-legenda yang pernah aku dengar tentang ke-galak-an seorang Ibu Kost, setelah hari ini aku yakin bahwa ternyata legenda-legenda itu memang bukan hanya sebatas isapan cerpen belaka. They are exist!

Kalau Ibu Kost ku, dia seorang wanita berusia sekitar 60-an tahun, etnis Tionghoa, disiplin, perfeksionis dan sangat mengedepankan kebersihan. 

Dia bisa merasakan sebutir debu berukuran sepersekian nanometer yang dia injak saat melintas di depan kamarku, atau setitik air yang lupa dilap di teras jemuran. Dia juga mempermasalahkan rambut-rambut jatuh yang terjebak di saluran air lantai kamar mandi. Dan yang paling luar biasa adalah, hanya dengan mendengar suara frekuensi kloset-disiram-air dari lantai bawah, dia bisa mengetahui siapa yang sedang berada di dalam toilet, karena katanya, style menyiram kloset kami berbeda-beda. 

Ah, di dalam toilet pun harus behave saat menyiram kloset. lol

Dia kadang berkomentar tanpa ampun, tetapi dengan cara manusiawi sehingga para penghuni kost tetap hidup dalam damai.


Pada suatu malam, hanya aku penghuni yang stay di kostan. Saat keluar kamar, aku mendapati Ibu Kost sedang termenung sendirian di teras berhiaskan jejeran jemuran yang masih basah. Aku mendekat dan menyapanya, lalu obrolan panjang pun tak terelakkan.

Ah, ternyata Ibu Kost ku yang super strict ini nyambung diajak gibah xD

Dia menceritakan semua kisah yang bisa dia ceritakan. Mulai dari awal mula merintis usaha kost-kostan, masa-masa sulit saat tidak ada uang dan harus meminjam ke saudara, cerita pilu saat anak kost paling setianya ternyata hamil (yang ini sambil nunjuk orangnya langsung yang kebetulan sedang lewat di depan gang), juga pengalaman saat kedatangan calon penghuni yang tidak sesuai dengan nalarnya.

"Nuna, masa itu anak gadis bilang, bu boleh ngajak pacar nginap disini kan?" woyy xD
"Saya bilangi... Itu orang tuamu di kampung setengah mati cari uang bayarkan sekolahmu, tapi kau malah rusak-rusak dirimu disini..."

Dialek dan ekspresinya yang khas membuatku ngakak tak terkontrol dalam hati, sambil manggut-manggut setuju dengan tindakannya. Benar... seperti inilah seharusnya karakter seluruh ibu-ibu kost yang ada di muka bumi... Melindungi moral anak bangsa.

Aku kagum dan mulai sayang sama Ibu Kost ini, semua peraturan ketat yang dia buat semata-mata demi kebaikan bersama. Dan tenyata tidak sulit mengambil hatinya, hanya dengan menjadi pendengar yang baik malam itu, hari-hari selanjutnya dia menjadi lebih ramah dari sebelumnya. Yaa tetapi tetap, tidak boleh ada pasir di depan kamar.

Sekian tentang Ibu Kost andalanku <3

Berikut aku share potret-potret kehidupanku selama nge-kost.
Selama ada isi dompet dan bisa masak, semua akan aman-aman saja dan segalanya menjadi kesenangan tersendiri.

Iya, ter-sendiri~

Ini waktu unboxing barang-barang di hari pertama. 
Dibantuin pindahan sama adek Nurul, teman kantor hoho
Kamarku~ Rp. 500ribu perbulan (sudah termasuk air) + sewa kasur 15ribu
belum termasuk voucher listrik, sampah, dan biaya kebersihan bulanan.
Kitchen Set
Ini punya Kak Ame, aku sempat cobain dikit. Sejenis micin dari jamur khusus vegetarian.
Makanan jadi lezat. Tapi aku cari label halalnya kok ga ada!?
Olive oil biar tetap sehat dong~        Belum ada rice cooker xD
Menu andalan Anak Kost HQQ
Ngga sengaja banget jatuhin telor ke lantai xD ini diplester aman kan? haha
Kadang niat masak, kadang beli, kadang pasrah.
Siang-siang panas ga ada AC, makan Ice Cream pun jadi.

Tuesday, 12 July 2016

Unconditional Photographer

Empat tahun berprofesi sebagai freelance part-time fotografer di kota Majene, cukup membuatku paham dan akrab dengan manis asam asinnya kehidupan menjadi seorang Tukang Foto. 

Alhamdulillah nama 'Nuna' sudah dikenal baik di kota ini sebagai seorang fotografer perempuan, yang Alhamdulillah (lagi), dipercaya selalu berusaha menciptakan foto terbaik demi membahagiakan klien. 

Entah dosa apa, aku sering banget dapat rejeki orderan motret tiba-tiba. 

Dapat telepon pas lagi setengah bobo siang, 
"Nuna, hari ini motret bisa?"
"Bisa, jam berapa kak?"
"Sekarang."
"..."

Begitulah bunyinya~
Padahal sebagai seseorang (yang berusaha menjadi) profesional, seharusnya membuat janji minimal sehari sebelumnya kan...? Namun sepertinya itu hanya sistem khayalan belaka dan tidak berlaku bagiku. Jadwal motretku sudah diatur sama Yang Di Atas, dan aku harus selalu siap dalam kondisi apapun.


Minggu lalu di bulan Ramadhan ini, aku menerima job motret pre-wedding yang ketika di lokasi, situasi dan kondisinya benar-benar menguji kewarasanku. Aku sudah sering berada di situasi seperti itu, tetapi untuk sesi foto kali ini, aku akui ini tantangan tersulit.

Bukan kesalahan klien, melainkan aku yang sampai sekarang memang belum memiliki peralatan fotografi yang lengkap. Aku bahkan tidak punya flash external, sejak flashku dihilangkan oleh rekan fotografer beberapa waktu yang lalu. T^T

Jadi, klienku ini bermaksud melakukan foto prewedding di sebuah villa pada sore hari. Aku beri saran untuk ready dan start tepat pukul 15.00 WITA agar pencahayaannya bagus dan hasilnya maksimal. Namun ternyata takdir berkata lain, klienku masih bergelut perihal perkara salon pada jam-jam rawan sekitar pukul 4.00 pm, dan baru beres di make-up pada pukul 5 sore. xD 

Ya sudah, hal ini memang hampir selalu terjadi. Aku ikhlas dan memanjatkan doa dalam hati, semoga hari ini sang surya bersinar lebih lama di langit.

Tiba di lokasi, aku terperangah kaku karena baru tahu kalau ternyata kami akan melakukan 3 (tiga) sesi pemotretan, dan klien sudah menyiapkan tiga kostum yang berbeda. Juga karena salah satu dari mereka harus kembali ke luar kota untuk bekerja esok hari, foto sesi pre-wedding ini harus selesai hari ini juga.

Dari pada mimisan tak berujung, aku memilih memancarkan senyuman maut. xD

Indoor Session
Setelah semuanya siap, kami pun akhirnya start pada pukul 5.20 pm. Syukurlah klien kali ini cukup fotogenic, tidak kaku dan mampu berekspresi serta bergaya suka-suka tanpa harus diarahkan setiap saat. 

Ini adalah 'mengejar matahari' dalam artian yang sesungguhnya, dan tentu saja aku memaksimalkan jepretan demi jepretan di sesi outdoor ini agar sekiranya mendapat pencahayaan yang... tidak terlalu mengundang dunia per-photoshop-an. Kalau di sesi indoor nanti, ah aku pasrah xD urusan nanti diurus nanti.

Entah ini pengaruh keroncongan karena puasa, atau memang karena terdesak cahaya matahari yang sudah on the way ke barat, sesi outdoor berhasil aku selesaikan dengan sangat cepat. Hanya bermodalkan Canon 1100D dan strap-nya sebagai aksesoris tambahan satu-satunya, Alhamdulillah hasil fotonya sesuai dengan keinginan klien. Yeay!

Outdoor session
Setelah berganti kostum (yang memakan waktu lebih lama dari sesi fotonya), tiba saatnya melakukan pemotretan sesi indoor.

Pukul 5.50 pm, tanpa cahaya matahari, tanpa flash... Yang ada hanya secercah cahaya lampu-lampu mewah nan remang dalam ruangan lobi villa itu.

Tidak rela jika hasil fotonya terlihat standar, disituasi sangat tidak berstandar ini, aku memilih untuk kekeuh 'membanting' ISO dan ‘memutar’ otak dari pada harus memakai flash kamera internal sebagai jalan pintas. Itu karena aku tidak akan suka hasilnya dan tidak bersemangat untuk itu. Toh ada noiseware dan tools penolong fotografer lainnya. Yang terpenting adalah, gambarnya tajam dan fokus. #Sikap

The Sibukers Crew
Bagaimanapun, kebahagiaan klien tetap nomor satu, dan itu adalah bayaran yang lebih mahal dari sekedar selebaran rupiah. (Aku tidak bilang ini gratis kwkw) Tetapi jika kliennya tidak suka dengan hasil fotonya, rasanya tidak enak untuk menerima bayarannya. hehehe

Untuk kesekian kalinya... Alhamdulillah. Momok paling menakutkan bagi setiap insan fotografer, memotret indoor di malam hari tanpa flash akhirnya berhasil aku lewati dengan baik. Sebaik aku menghadapi dan menerima semuanya dengan senyum semangat. Aku yakin setelah ini, tidak akan ada lagi penghalang untuk setiap sesi pemotretan pre-wedding perihal pencahayaan, yang lebih berat daripada ini. Asal jangan minta sesi underwater saja. xD

The best 'indoor' result. Terima kasih Photoshop :')
Semoga berbahagia!

Custom Post Signature