salted dreams sugary sea

Tuesday, 12 July 2016

Unconditional Photographer

Empat tahun berprofesi sebagai freelance part-time fotografer di kota Majene, cukup membuatku paham dan akrab dengan manis asam asinnya kehidupan menjadi seorang Tukang Foto. 

Alhamdulillah aku sudah AGAK dikenal baik di kota ini sebagai seorang fotografer perempuan, yang Alhamdulillah (lagi), dipercaya selalu berusaha menciptakan foto terbaik demi membahagiakan klien. 

Entah dosa apa, aku sering banget dapat rejeki orderan motret tiba-tiba. 

Dapat telepon pas lagi setengah bobo siang, 
"Nuna, hari ini motret bisa?"
"Bisa, jam berapa kak?"
"Sekarang."
"..."

Begitulah bunyinya~
Padahal sebagai seseorang (yang berusaha menjadi) profesional, seharusnya membuat janji minimal sehari sebelumnya kan...? Namun sepertinya itu hanya sistem khayalan belaka dan tidak berlaku bagiku. Jadwal motretku sudah diatur sama Yang Di Atas, dan aku harus selalu siap dalam kondisi apapun.


Minggu lalu di bulan Ramadhan ini, aku menerima job motret pre-wedding yang ketika di lokasi, situasi dan kondisinya benar-benar menguji kewarasanku. Aku sudah sering berada di situasi seperti itu, tetapi untuk sesi foto kali ini, aku akui ini tantangan tersulit.

Bukan kesalahan klien, melainkan aku yang sampai sekarang memang belum memiliki peralatan fotografi yang lengkap. Aku bahkan tidak punya flash external, sejak flashku dihilangkan oleh rekan fotografer beberapa waktu yang lalu. T^T

Jadi, klienku ini bermaksud melakukan foto prewedding di sebuah villa pada sore hari. Aku beri saran untuk ready dan start tepat pukul 15.00 WITA agar pencahayaannya bagus dan hasilnya maksimal. Namun ternyata takdir berkata lain, klienku masih bergelut perihal perkara salon pada jam-jam rawan sekitar pukul 4.00 pm, dan baru beres di make-up pada pukul 5 sore. xD 

Ya sudah, hal ini memang hampir selalu terjadi. Aku ikhlas dan memanjatkan doa dalam hati, semoga hari ini sang surya bersinar lebih lama di langit.

Tiba di lokasi, aku terperangah kaku karena baru tahu kalau ternyata kami akan melakukan 3 (tiga) sesi pemotretan, dan klien sudah menyiapkan tiga kostum yang berbeda. Juga karena salah satu dari mereka harus kembali ke luar kota untuk bekerja esok hari, foto sesi pre-wedding ini harus selesai hari ini juga.

Dari pada mimisan tak berujung, aku memilih memancarkan senyuman maut. xD

Indoor Session
Setelah semuanya siap, kami pun akhirnya start pada pukul 5.20 pm. Syukurlah klien kali ini cukup fotogenic, tidak kaku dan mampu berekspresi serta bergaya suka-suka tanpa harus diarahkan setiap saat. 

Ini adalah 'mengejar matahari' dalam artian yang sesungguhnya, dan tentu saja aku memaksimalkan jepretan demi jepretan di sesi outdoor ini agar sekiranya mendapat pencahayaan yang... tidak terlalu mengundang dunia per-photoshop-an. Kalau di sesi indoor nanti, ah aku pasrah xD urusan nanti diurus nanti.

Entah ini pengaruh keroncongan karena puasa, atau memang karena terdesak cahaya matahari yang sudah on the way ke barat, sesi outdoor berhasil aku selesaikan dengan sangat cepat. Hanya bermodalkan Canon 1100D dan strap-nya sebagai aksesoris tambahan satu-satunya, Alhamdulillah hasil fotonya sesuai dengan keinginan klien. Yeay!

Outdoor session
Setelah berganti kostum (yang memakan waktu lebih lama dari sesi fotonya), tiba saatnya melakukan pemotretan sesi indoor.

Pukul 5.50 pm, tanpa cahaya matahari, tanpa flash... Yang ada hanya secercah cahaya lampu-lampu mewah nan remang dalam ruangan lobi villa itu.

Tidak rela jika hasil fotonya terlihat standar, disituasi sangat tidak berstandar ini, aku memilih untuk kekeuh 'membanting' ISO dan ‘memutar’ otak dari pada harus memakai flash kamera internal sebagai jalan pintas. Itu karena aku tidak akan suka hasilnya dan tidak bersemangat untuk itu. Toh ada noiseware dan tools penolong fotografer lainnya. Yang terpenting adalah, gambarnya tajam dan fokus. #Sikap

The Sibukers Crew
Bagaimanapun, kebahagiaan klien tetap nomor satu, dan itu adalah bayaran yang lebih mahal dari sekedar selebaran rupiah. (Aku tidak bilang ini gratis kwkw) Tetapi jika kliennya tidak suka dengan hasil fotonya, rasanya tidak enak untuk menerima bayarannya. hehehe

Untuk kesekian kalinya... Alhamdulillah. Momok paling menakutkan bagi setiap insan fotografer, memotret indoor di malam hari tanpa flash akhirnya berhasil aku lewati dengan baik. Sebaik aku menghadapi dan menerima semuanya dengan senyum semangat. Aku yakin setelah ini, tidak akan ada lagi penghalang untuk setiap sesi pemotretan pre-wedding perihal pencahayaan, yang lebih berat daripada ini. Asal jangan minta sesi underwater saja. xD

The best 'indoor' result. Terima kasih Photoshop :')
Semoga berbahagia!
Be First to Post Comment !
Post a comment

Custom Post Signature